Tubuhku terbaring di atas ranjang, kedua tanganku terlipat di belakang bermaksud membantu menyandarkan kepala di atas bantal. Kulihat jam dinding yang tertempel di dinding rumah. Arah jarum jam panjang menunjuk pada angka 5 dan jarum pendek berada pada angka 12. Sampai pukul tepat 5 sore ini belum ada satu orang pun yang datang menjengukku di rumah.
Kuraih handphone di sebelah tubuhku, belum ada satu orang pun yang menghubungiku. Mengharapkan sekedar ucapan manis dari mereka yang telah lama mengenalku. Sahabat masih ingatkah engkau dengan hari yang dianggap orang paling teristimewa ini? Tentang sebuah perpanjangan umur...orang-orang menyebutnya dengan hari ulang tahun.
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu itu membuatku beranjak dari tempat tidur. Kubuka pintu rumah.
"Feni!", teriakku.
Spontan tubuhku memeluk tubuh gadis yang dulu menjadi sahabatku semasa SMP, sebut saja namanya Feni. Walaupun kami sudah 3 tahun jarang bertemu tatap muka namun tak menyurutkan untuk terus bersilahturahmi dan berhubungan lewat jaringan handphone. Saking kangennya aku terlalu erat memeluk tubuhnya.
Aku mempersilahkan feni untuk masuk ke dalam rumah. Feni dan aku berjalan beberapa langkah menuju ruang tamu, lalu kami berdua duduk bersama. Kami pun bercerita tentang diri kita masing-masing.
" Selamat ulang tahun ya Fatla sahabatku", ucap Feni seraya mengulurkan tangannya untukku.
Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya.
Belum sempat aku berbicara, Feni melepaskan salah satu tangannya dari genggamanku, tangan kanannya merogoh sesuatu ke dalam tasnya. Benda berbentuk kubus itu dikeluarkannya dan diserahkan di kedua tanganku. Kubus itu berbalut kertas kado berwarna pink.
" Ini hadiah buatku?", tanyaku.
"iya, hehe."
"Terimakasih banget Fen", ucapku seraya memeluknya kembali.
Ketika aku hendak membuka kado, Feni melarangnya.
"Jangan, nanti aja deh pas aku dah pulang. Aku mau buat kamu penasaran. hehe..."
"Jiah, ya sudah deh", aku manut karena tidak ingin mengecewakannya.
Moment untuk berfoto bersama juga terlupa dari benakku.
Tapi malam itu setelah Feni sudah pulang ke rumahnya sendiri, aku membuka kado itu di kamarku, dengan sangat hati-hati kubuka balutan kertas kado itu. Kutemukan sebuah kotak dan kulihat di dalamnya ada kupu-kupu buatan cantik dan di bawahnya terdapat magnet. Kulihat pula secarik kertas yang berisikan puisi tentang Persahabatan. Aku malah jadi teringat dengan lagu dari Sindentosca berjudul Kepompong, "Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu".
Di dalam kegelapan kamarku, tanpa adanya cahaya lampu. Kulihat sinar mengkilau berkali-kali mengarah pada diriku. Tanpa ada suara jepretan kamera.
Ternyata kakakku usil ya, mengabadikan gambar wajahku ke dalam handphonenya.
Kakakku cengar-cengir seraya mengucapkan "Selamat ulang tahun yang ke 18 ya adikku yang paling imoet, lucu, dan manis."
Sekalian aja aku langsung narsis minta foto sekali lagi dengan si kupu-kupu cantik.
Hehehe...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar